• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

Showing posts with label Kisah Pandawa Prabu Yudistira. Show all posts
Showing posts with label Kisah Pandawa Prabu Yudistira. Show all posts

Penobatan Karna Menjadi Raja dari Angga



   Suatu ketika Guru Drona pertunjukkan hasil pendidikan para Pandawa dan Kurawa di hadapan para bangsawan dan rakyat Hastinapura. Setelah melalui berbagai tahap pertandingan, Guru Drona akhirnya mengumumkan bahwa Arjuna dari pihak Pandawa adalah murid terbaiknya, terutama dalam hal ilmu memanah. Tiba- tiba Karna muncul menantang Arjuna sambil memamerkan kesaktiannya.
    Pada saat itu Resi Krepa selaku pendeta istana meminta Karna supaya memperkenalkan diri terlebih dahulu karena untuk menghadapi Arjuna haruslah dari golongan yang sederajat. Mendengar permintaan itu, Karna pun tertunduk malu. Duryodana (Kurawa tertua) maju membela Karna. Menurutnya, keberanian dan kehebatan tidak harus dimiliki oleh kaum ksatriya saja. Namun apabila peraturan mengharuskan demikian, Duryodana memiliki jalan keluar. Ia mendesak ayahnya, yaitu Dretarastra raja Hastinapura, supaya mengangkat Karna sebagai Raja bawahan di Angga.
   Raja Dretarastra yang berhati lemah tidak mampu menolak permintaan putra kesayangannya itu. Maka pada hari itu juga, Karna pun resmi dinobatkan menjadi raja Angga. Adirata muncul menyambut penobatan Karna. Akibatnya, semua orang pun tahu kalau Karna adalah anak Adirata. Melihat hal itu, Bima (Pandawa) mengejeknya sebagai anak kusir sehingga tidak pantas bertanding melawan Arjuna yang berasal dari kaum bangsawan. Sekali lagi Duryodana tampil membela Karna.
    Kemudian suasana semakin tegang dan memanas. Namun tidak seorang pun yang menyadari kalau Kunti jatuh pingsan di bangkunya setelah melihat kehadiran Karna. Kunti langsung mengenalinya sebagai putra sulung yang pernah ia buang dari pakaian perang dan perhiasan pemberian Surya yang melekat di tubuh Karna.
    Di dalam suasana yang menegangkan itu diredakan oleh terbenamnya matahari. Dretarastra membubarkan acara tersebut sehingga pertandingan antara Karna dan Arjuna dihentikan.
Bersambung...........

Share:

Kisah Karna Putra Dewa Surya yang di anugerahkan kepada Dewi Kunti

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<ins class="adsbygoogle"
     style="display:block"
     data-ad-format="fluid"
     data-ad-layout-key="-fb+5w+4e-db+86"
     data-ad-client="ca-pub-2756391701193727"
     data-ad-slot="9470846555"></ins>
<script>
     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>
Karna merupakan sosok pahlawan yang memiliki sifat-sifat kompleks. Meskipun berada di pihak antagonis, namun ia terkenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesatria. Sifatnya angkuh, sombong, suka membanggakan diri, namun juga seorang dermawan yang murah hati kepada siapa saja, terutama fakir miskin dan kaum brahmana. Kesaktiannya yang luar biasa membuat namanya terkenal sepanjang masa dan disebut dengan penuh penghormatan.
     Dalam kelahirannya seperti yang dikisahkan dalam cerita sebelumnya, seorang putri bernama Kunti yang pada suatu hari ditugasi menjamu seorang pendeta tamu ayahnya, bernama Resi Durwasa. Atas jamuan itu, Durwasa merasa senang dan menganugerahi Kunti sebuah ilmu kesaktian semacam mantra yang dapat digunakan untuk memanggil dewa dan mendapat anugerah seorang putra dari dewa tersebut.
     Suatu hari di usia yg masih muda belia tanpa pikir panjang Kunti mencoba mantra tersebut sambil memandang matahari terbit. Akibatnya, dewa Surya penguasa matahari muncul menampakkan diri dan menganugerahi seorang putra yang di beri Nama Karna.
    Seketika itu Kunti ketakutan dan mencoba menolak karena ia sebenarnya hanya ingin mencoba keampuhan mantra itu saja. Surya menyatakan dengan tegas bahwa mantra tersebut bukanlah mainan. Dengan sabda sang dewa, Kunti pun mendapatkan putra. Surya lalu kembali ke kahyangan.
    Karena demi menjaga nama baik negaranya, Kunti yang Mempunyai Anak sebelum menikah terpaksa membuang "putra Surya" yang ia beri nama Karna di sungai Aswa dalam sebuah keranjang. Bayi itu kemudian terbawa arus sampai akhirnya ditemukan oleh Adirata yang bekerja sebagai kusir kereta di Kerajaan Kuru atau Kerajaan Hastinapura.
    Adirata dan istrinya dengan gembira menjadikan bayi tersebut sebagai anaknya. Karna sejak lahir sudah memakai pakaian perang lengkap dengan anting-anting dan kalung yang ternyata merupakan perisai sakti pemberian Dewa Surya.
    Putra Dewa Surya Karna diasuh dan dibesarkan dalam keluarga Adirata, sehingga ia dikenal dengan julukan Sutaputra atau anak kusir. Julukan lainnya yang lebih terkenal adalah Radheya, yang bermakna "anak Radha" (istri Adirata).
   Karna putra Surya meskipun tumbuh dalam lingkungan keluarga kusir, Karna justru berkeinginan menjadi seorang perwira kerajaan. Karna kecil lebih tertarik belajar ilmu perang khususnya dalam ketrampilan memanah daripada meneruskan tradisi keluarganya menjadi kusir kereta Raja.
   Karena Karna bukan dari kasta Ksatria, banyak orang yang mencemooh Karna putra Dewa Surya itu karena keinginanya yang besar ingin menjadi perwira.
   Pada zaman tersebut seorang kasta sudra dilarang untuk menjadi prajurit/perwira karena itu hanya untuk kasta ksatriya saja.
    Atas saran Bisma, Karnapun berpetualang untuk mendalami ilmu perang. Karna mencoba mendaftar ke perguruan Resi Drona yang saat itu sedang mendidik para Pandawa dan Kurawa. Akan tetapi, Drona menolak menjadikan Karna  sebagai murid karena ia hanya sudi mengajar kaum ksatriya saja.
    Karna yang sudah bertekad bulat memutuskan untuk mencari guru lain, dan ia pun menyamar menjadi kaum Brahmana agar mendapatkan pendidikan dari Parasurama.
    Parasurama adalah guru dari Bisma dan Guru Drona, jadi, Karna mendapatkan guru yang lebih baik dari Guru Drona. Malangnya, Ia ketahuan berbohong lalu ia dikutuk oleh Parasurama kelak pada waktunya ilmu yang diajarkannya tidak berguna lagi untuknya.
Bersambung.......
<script type="text/javascript">
  ( function() {
    if (window.CHITIKA === undefined) { window.CHITIKA = { 'units' : [] }; };
    var unit = {"calltype":"async[2]","publisher":"MANEGES59","width":550,"height":250,"sid":"Chitika Default"};
    var placement_id = window.CHITIKA.units.length;
    window.CHITIKA.units.push(unit);
    document.write('<div id="chitikaAdBlock-' + placement_id + '"></div>');
}());
</script>
<script type="text/javascript" src="//cdn.chitika.net/getads.js" async></script>

Share:

Pertemuan Arjuna Dengan Dewa Siwa dalam Pertapaannya.

    Sebuah Kitab Wanaparwa meriwayatkan wayatkan kejadian setelah para Pandawa yang dipimpin Yudistira kalah bermain dadu melawan para Kurawa yang dimainkan oleh Duryudana. Sesuai ketentuan permainan tersebut, maka para Pandawa beserta Drupadi sebagai pihak yang Kalah Harus mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun 1 tahun harus bersembunyi dan Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Arjuna untuk bertapa demi memperoleh kesaktian dalam peperangan melawan para sepupunya. Arjuna memilih lokasi bertapa di gunung Indrakila. Dalam usahanya, ia diuji oleh tujuh Bidadari yang dipimpin oleh Supraba, namun keteguhan hati Arjuna mampu melawan berbagai godaan yang diberikan oleh para bidadari. Para bidadari yang kesal kembali ke kahyangan, dan melaporkan kegagalan mereka kepada Dewa Indra. Dewa Indra kemudian turun di tempat Arjuna bertapa sambil menyamar sebagai seorang Pendeta. Dia menanyakan tujuan Arjuna melakukan tapa di gunung Indrakila. Arjuna menjawab bahwa ia bertapa demi memperoleh kekuatan untuk mengurangi penderitaan rakyat, serta untuk menaklukkan musuh-musuhnya, terutama para Kurawa yang selalu bersikap jahat terhadap para Pandawa. Setelah mendengar penjelasan dari Arjuna, Indra menampakkan wujudnya yang sebenarnya. Dia memberikan anugerah kepada Arjuna berupa senjata sakti.

    Setelah mendapat anugerah dari Dewa indra, Arjuna memperkuat tapanya ke hadapan Dewa Siwa. Siwa yang terkesan dengan tapa Arjuna kemudian mengirimkan seekor babi hutan berukuran besar. Ia menyeruduk gunung Indrakila hingga bergetar. Hal tersebut membuat Arjuna terbangun dari tapanya. Karena ia melihat seekor babi hutan sedang mengganggu tapanya, maka ia segera melepaskan anak panahnya untuk membunuh babi tersebut. Di saat yang bersamaan, Dewa siwa datang dan menyamar sebagai pemburu, turut melepaskan anak panah ke arah babi hutan yang dipanah oleh Arjuna. Karena kesaktian dewa, kedua anak panah yang menancap di tubuh babi hutan itu menjadi satu. Pertengkaran hebat terjadi antara Arjuna dan Siwa yang menyamar menjadi pemburu. Mereka sama-sama mengaku telah membunuh babi hutan siluman, namun hanya satu anak panah saja yang menancap, bukan dua. Maka dari itu, Arjuna berpikir bahwa si pemburu telah mengklaim sesuatu yang sebenarnya menjadi hak Arjuna. Setelah adu mulut, mereka berdua berkelahi. Saat Arjuna menujukan serangannya kepada si pemburu, tiba-tiba orang itu menghilang dan metampakkan wujud aslinya sebagai Siwa. Arjuna meminta maaf karena ia telah berani melakukan tantangan. Siwa tidak marah kepada Arjuna, justru sebaliknya ia merasa kagum. Atas keberaniannya, Dewa Siwa memberi anugerah berupa panah sakti bernama Pasupati.

    Setelah Arjuna menerima senjata pasupati, Arjuna dijemput oleh para penghuni kahyangan untuk menuju kediaman Dewavindra, raja para dewa. Di sana Arjuna menghabiskan waktu selama beberapa tahun. Di sana pula Arjuna bertemu dengan bidadari Urwasi. Karena Arjuna tidak mau menikahi bidadari Urwasi, maka Urwasi mengutuk Arjuna agar kelak menjadi banci (peran Arjuna sebagai banci diceritakan sebagai dalam buku wiraraparwa). Kutukan itu dimanfaatkan oleh Arjuna pada saat para Pandawa menyelesaikan hukuman pembuangan mereka dalam hutan. Setelah menyelesaikan hukuman pembuangan, Pandawa beserta Drupadi berlindung di kerajaan Wirata. Sesuai dengan perjanjian yang sah sebagai akibat kekalahan saat bermain dadu, maka para Pandawa beserta Drupadi harus hidup dalam penyamaran selama satu tahun. Maka dari itu, para Pandawa beserta Dropadi harus menyembunyikan identitas asli mereka dan hidup sebagai orang lain. Di sana Arjuna menyamar sebagai guru tari yang banci, dengan nama samaran Brihanala.Meskipun demikian, Arjuna telah berhasil membantu putra mahkota kerajaan Wirata, yaitu pangeran Utara, dengan menghalau musuh Dari pasukan Hastinapura yang hendak menyerbu kerajaan Wirata.


Bersambung....... 

Share:

Search This Blog

Powered by Blogger.

Mahabharata

Penobatan Karna Menjadi Raja dari Angga

   Suatu ketika Guru Drona pertunjukkan hasil pendidikan para Pandawa dan Kurawa di hadapan para bangsawan dan rakyat Hastinapura...

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.